Sutradara Indonesia Terbaik


1. Riri Riza
Petualangan Sherina, GIE, Laskar pelangi. 3 Film yang sukses dengan genre yang berbeda inilah beberapa karya dari riri riza. Riri memiliki kelebihan dari segi sinematografi yang indah. Lihatla Gie, saya suka sekali dengan warnanya. Sangat tahun 80an, tapi keindahannya tetap terjaga. Jika menilik laskar pelangi, Riri berhasil menangkap keindahan Belitong yang tersembuyi.
Selain dari segi sinematografi, Riri juga dapat menuturnkan cerita dengan baik dan cukup bisa dimengeri. Selain handal menyutradarai, Riri juga seorang penulis yang handal. Mungkin ini juga yang menjadi faktor keberhasilan Riri dalam dunia perfilman di Indonesia.
2. Joko anwar
Well, untuk sutradara yang satu ini, saya selalu stading ovation dalam setiap film yang dibuatnya, diantaranya Janji Joni, Kala dan Pintu Terlarang. Cerita yang tidak biasa untuk masyarakat Indonesia, tapi sangat entertaining menurut saya. Sinematografi yang digarap dengan sangat apik, skenario yang dibuatnya sendiri, cast yang benar-benar cocok. Joko merupakan sutradara yang benar-benar memikirkan detail dari karyanya menurut saya. Mungkin hal ini terjadi karena sebelumnya joko merupakan seorang kritikus film, jadi dia tahu apa yang biasanya menjadi sorotan publik dalam sebuah film.
Sebelum menjadi seorang sutradara, joko terlebih dahulu menjadi penulis skenario. Arisan! Adalah karya pertamanya sebagai penulis skenario, dan mendapat sambutan yang sangat baik. Setelah sukses dengan menjadi penulis skenario ia mulai karirnya sebagai sutradara di Film Janji Joni yang bergenre drama komedi, dan juga mendapatkan sambutan yang sangat baik dari masyarakat maupun kritikus film.
Setelah sukses dengan drama komedi, ia pun membuat film Kala dan Pintu terlarang yang bergenre thriller suspence. Kedua film ini mendapat pujian dari berbagai kritikus film dalam dan luar negeri. Selain menjadi sutradara, ia juga pernah bermain di film Babi buta yang ingin terbang sebagai seorang Gay. What a multitalented gay, oops guy i mean.
3. Nia dinata

Nia Dinata adalah salah seorang feminis sejati. Kenapa saya bilang seperti itu? Karena karya-karyanya selalu mengangkat tema tentang nasib para kaum perempuan. Arisan!, berbagi suami, hingga pertaruhan. Nia selalu memberikan gambar-gambar yang berwarna chic dan sangat nyaman dipandang, dan cerita-cerita yang mengangkat tema sederhana yang ada di masyarakat tapi tidak terlalu dilirik oleh sineas film lainnya.
Pada Film berbagi suami contohnya. Di Indonesia yang notabene hampir 80% masyarakatnya penganut agama islam, dan islam memperbolehkan seorang laki-laki memiliki istri lebih dari satu atau biasa dikenal dengan poligami. Nia berhasil mengangkat isu poligami dari berbagai sudut pandang. Kini Nia semakin berjaya dengan Kalyana Shira Film dan Kalyana shira Foundation yang ia gawangi. Semoga Nia bisa memberikan hal-hal baru di dunia film Indonesia nantinya.
4. Garin Nugroho
Master of Art Movie. Itulah Garin Nugroho dimata saya. Film yang dibuatnya memang bukan film yang komersial, tapi sarat makna dan indah dalam segi sinematografi. Ceritanya memang tidak semua orang bisa mengerti, sehingga banyak yang mengkatagorikan film buatan garin sebagai film yang berat. Pasir berbisik, Under the tree, Opera Jawa, itulah sekelumit dari karya-karyanya. Walaupun tidak terlalu berhasil di pasaran, tapi film garin sering memenangkan penghargaan dari pestival-festival film diluar negeri. Sedikit miris memang, karyanya lebih diapresiasi oleh orang luar negeri dibandingkan oleh kita sendiri.
Ketika saya mengikuti sebuah workshop film, dan kebetulan workshop tersebut menghadirkan garin sebagai narasumber, Garin mengatakan bahwa ia akan terus memproduksi film-film art. Saya kagum dengan semangat yang ia miliki dalam memajukan dunia perfilman Indonesia dan juga memajukan para penonton Indonesia agar lebih luas lagi mengenal film-film yang ada. Bukan hanya terpaku pada film horror, drama dan komedi.
Go Garin!
5. Hanung bramantyo
Film buatannya laris manis dipasaran. Get Married, Ayat-Ayat Cinta, Perempuan berkalung sorban, catatan Akhir sekolah, dan get Married II. Ia pun pernah menag FFi sebagai Best Director dalam film Brownies. Untuk yang ini saya sedikit aneh. Brownies bukanlah film yang bagus menurut saya. Catatan akhir sekolah malah lebih bagus baik dari segi cerita ataupun segi sinematografi. Entahlah, saya sedikit ragu dengan FFI yang bangkit setelah mati surinya. yah lanjut lagi tentang hanung.
Memang film-film hanung berhasil di pasaran. Tapi saya belum menemukan bentuk atau identitas hanung di setiap filnya. Berbeda dengan Joko anwar, Nia dinata, riri riza dan Garin nugroho yang saya rasa sudah memiliki identitas dalam men-direct. Itulah kekurangan hanung menurut saya. Tapi saya salut dengan prestasinya dalam membaca pasar, so saya tempatkan dia dalam jajaran 9 sutradara terbaik.
6. Rudi soejarwo

Siapa yang gak tau AADC (Ada Apa dengan Cinta) ? Film fenomenal yang membangkitkan perfilman Indonesia. Rudi Soejarwo lah sang sutradaranya. Dalam film-filmnya Rudi memberikan gambar yang catchy dan contrast yang cukup tinggi, tapi tidak membuat mata lelah. Cerita-cerita yang disajikan pun lebih kepada drama keluarga dan persahabatan. Saya masih ingat ketika saya menangis menonton Mengejar Matahari. Selain handal dalam film drama, ia juga handal dalam men-direct film horror. Yap, Pocong II bikin saya ketar-ketir sendiri, sayangnya Pocong I dilarang beredar di pasaran. Kabarnya Pocong I lebih menakutkan dari Pocong II.
Tapi menurut saya dalam dua tahun terakhir ini Rudi belum memberikan film yang membuat saya tertarik untuk menonton. Tahun lalu dia hanya membuat satu film, dan itu pun film horror. Entahlah, saya harap dia bisa membuat karya baru di tahun 2010 ini yang membuat saya tertarik untuk menontonnya. Ayo dong rudi, bikin film baru lagi.
7. Ifa Isfansyah

Garuda di Dadaku adalah film yang sarat akan nasionalisme dan cocok untuk semua umur, lalu ada film pendek di antologi 9808 yang menurut saya hanya bisa ditonton remaja hingga dewasa, karena ada unsur tentang lesbiannya. Dan ternyata pembuat kedua film diatas adalah orang yang sama, Ifa Isfansyah. Saya belum terlalu mengenal karya-karyanya, hanya dua film tersebut yang baru saya tonton, dan dua-dunaya memberikan kesan yang berbeda.
Saya juga pernah dartang ke sebuah acara dimana dia datang sebagai narasumber, di acara tersebut dia menampilkan sebuah film pendek korea yang menampilkan tentang kamera polaroid buatan salah satu temannya di korea, Ifa pernah belajar di korea selama dua tahun. Temannya tersebut ternyata membuat film tersebut untuk memperingati bahwa kamera polaroid sudah tidak diproduksi lagi, dan temannya tersebut adalah pecinta kamera pilaroid. Well, menurutnya film yang baik adalah film yang benar-benar dibuat dengan hati. Setuju! Setiap director memang harus membuat film dengan sepenuh hati!
8. The Mo Brothers
Kimo Stamboel dan Timo Tjahjanto adalah dua filmmaker muda yang tergabung dalam Mo Brothers. Mereka tersatukan hubungan saudara sesuku kata "Mo" dari nama mereka dan passion untuk dapat menghibur orang melalui ketakutan dan ketegangan yang lebih berkualitas. Saya pertama mengenal karya mereka lewat Dara, sebuah film pendek yang menceritakan tentang seorang wanita muda yang membuka sebuah restoran dan ternyata seorang psikopat! Durasinya memang hanya 26 menit, tapi rasanya saya seperti dikejar-kejar anjing saking takutnya.

0 komentar:

Poskan Komentar